Review Novel Girls in the Dark

Girl in the Dark

Judul                            : Girl in the Dark
Genre                          : Horor
Penulis                         : Akiyoshi Rikako
Penerjemah                : Andry Setiawan
Penyunting                  : Nona Aubree, Arumdyah Tyasayu (‘Hukuman Telak’)
Proofreader                : Dini Novita Sari
Design Cover               : Kana Otsuki
Ilustrator                     : @teguhra
Penerbit                      : Penerbit Haru
ISBN                             : 978-602-7742-31-4
Cetakan                       : Ketujuh, 2016
Jumlah Halaman         : 289hal
Harga                          : 59.000
Blurb                          :




Apa yang ingin disampaikan gadis itu...?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh Diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan
sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenernya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi...

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?
Sinopsis:
            Di sebuah bangunan sekolah lama, SMA Putri Santa Maria terdapat salon (di Prancis: sebuah tempat orang-orang berkumpul, biasanya digunakan untuk membicarakan sastra dan hal akademik lain) Klub Sastra yang digunakan untuk perkumpulan mereka yang ke-16. Di pertemuan itu, mereka melakukan Yami-Nabe (Arti harafiahnya: “Panci dalam kegelapan” dimana semua peserta membawa bahan makanan yang dirahasiakan dari orang lain. Semua orang memasukannya dalam panci yang berisi air mendidih dan memakannya. Biasanya dilakukan dalam keadaan gelap). Dalam Yami-Nabe kali ini, dibarengi dengan pembacaan naskah dari tiap anggota klub. Tema naskah kali ini adalah kematian Shiraishi Itsumi, mantan ketua Klub Sastra yang mati bersimbah darah akibat jatuh dari teras lantai atas. Tidak ada yang tahu apakah Itsumi bunuh diri atau dibunuh. Akan tetapi, banyak orang yang mengatakan Itsumi dibunuh oleh salah seorang anggota Klub Sastra, terlebih jenazah Itsumi ditemukan bersimbah darah sambil menggenggam sekuntum bunga lily yang diyakini mengarah ke pelaku pembunuhnya. Naskah yang mereka bacakan ternyata adalah analisis masing-masing tentang siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya.
            Sayuri, selaku wakil ketua klub kini bertugas sebagai ketua untuk memimpin Yami-Nabe dan pembacaan naskah. Dikeremangan ruang, Sayumi memasukan semua bahan makanan ke dalam panci dan mengaduknya. Pembaca naskah pertama adalah Nitani Mirei, seorang murid kelas 1-A yang mendapat beasiswa dari pengelola sekolah yaitu Tuan Shiraishi, ayah Itsumi. Mirei bercerita, bahwa ia adalah orang yang serba kekurangan dan Itsumi memintanya bekerja menjadi guru les untuk adiknya di rumah. Itsumi pun sering menceritakan keluhannya tentang salah seorang anggota Klub yang menggoda ayahnya dengan kain berbau bunga Lily, sampai akhirnya dikematiannyapun Itsumi menggenggam bunga itu. Sehingga Mirei menuduh salah seorang anggota klub itulah pelaku sesungguhnya.
            Akan tetapi, ketika Kominami Akane seorang pecinta masakan barat membacakan naskahnya, sang tertuduh bukanlah sama dengan cerita Mirei melainkan anggota lainnya. Begitupun dengan naskah dari Diana Detchera, Koga Sonoko, dan Takaoka Shiyo. Pelaku dari setiap analisis mereka berbeda-beda. Hingga akhirnya, Sayuri membacakan naskah terakhir yang mengejutkan semua anggota klub karena di naskah itu kebenaran mulai terkuak dan hal yang lebih mengerikan dari kematian telah menanti mereka.
---
Cover                           :  Menurutku, cover garapan Kana Otsuki ini sangat cocok untuk menggambarkan sosok girl in the dark dalam cerita. Apalagi  unsur siswi sekolah menangah di Jepan sangat kental dan kentara, dengan rambut tipis yang panjang, seragam ala pelaut dengan sleyer merah diikat, dan kerah biru tua bergaris putih yang khas pelajar jepang. Pokoknya cover ini sangat menggambarkan gadis sekolah jepang yang memiliki sisi gelap yang tak kentara. Keren. Eh tapi, menurutku gambar matanya kurang sipit kalau ukuran orang Jepang. Lebih seperti mata orang Indonesia malahan, walaupun tatapannya dalam dan menyeramkan seperti dalam cerita. 

            Menurutku dari alur dan plotnya sendiri cerita Girls in the Dark sendiri sangat unik namun tidak mengganggu. Novel ini menceritakan kisah kelima tokoh dengan sudut pandang masing-masing tokoh. Dari sini pembaca akan dibuat bertanya-tanya, siapa yang benar dan salah. Lalu pertanyaan yang paling membuat bingung “Siapa pelaku pembunuhan Itsumi?” jujur, aku salah menebak hahaha. Walau biasa membaca cerita detectiv seperti Conan, Sherlock, atau karya Agatha Christy aku masih salah menebak dan terpeleset diakhir. Ending dari cerita ini benar-benar bikin syok! Dan aku pribadi, tidak berharap punya teman seperi itu. Kesan dark yang disajikan penulis langsung mencolok di bab awal, dan yang membuat aku suka penerjemah memberikan banyak note tentang hal-hal khas Jepang yang aku nggak ngerti artinya. Seperti pengertian Yami-Nabe dll. Karakter yang paling aku suka adalah Sayuri, saat-saat dia memberi tanggapan setiap akhir pembacaan naskah terkesan dingin dan sadis membuat merinding. Karakter Sayuri ini sangat kuat walaupun tokohnya sendiri tidak sering muncul diantara naskah anggota yang dibaca. Aku sedikit tidak suka di bab pembacaan naskah oleh Koga Sonoko, karena karakternya yang sangat ilmiah dan terkesan baku, naskahnya pun berkarakter demikian. Mungkin karna aku tidak menyukai tulisan formal khas karya ilmiah, tapi itu berarti Akiyoshi Rikako berhasil menulis karakter Sonoko dengan kuat. Huaa dengar-dengar, cerita yang bagus biasanya memiliki tokoh yang karakternya kuat seperti Akiyoshi Rikako ini. Waahh daebbak!

            “Kalau kesialan seseorang itu adalah madu yang manis, rahasia seseorang itu adalah rempah-rempah yang berkualitas tinggi.” (hal:227)

            “Pegang rahasianya, rebut tempatnya berada, dan sudutkan.” (hal:227)

Salah satu quotes yang bikin merinding saat membaca. Dari cerita ini pula aku mengambil hikmah yang memang bikin merinding, seperti yang dikatakan Sayumi “Persahabatan perempuan di kalangan SMA memang sangat extrime ya.” Kata-kata itu terus terngiang dan aku jadi bersyukur mempunyai sahabat yang tidak seperti mereka hehe. Penasaran? Silahkan cari Gils in the Dark di toko buku kesayangan kalian *eaa promosi*. Buku ini sangat rekomended gaiss, sungguh! Saya berani beri 4 bintang yeaaay  🌟🌟🌟🌟


Komentar